Sekilas di Semarang

Menyusuri perjalanan dari bandara ke hotel tempat saya menginap kembali melayangkan memori arsitektur kota saat Indonesia diduduki Belanda berpuluh tahun silam. Bangunan tua silih berganti menampakkan wujudnya sembari menggelitik pemirsa untuk mencari tahu sejarahnya. Sayang seribu sayang, gaya neo klasik ini sangat jarang kita adopsi.

Beranjak pada khazanah kuliner, Semarang memiliki ratusan bahkan ribuan kuliner tradisional. Sebagaimana hukum alam tentang industri kuliner yang saya kenal, suatu usaha makan-makanan ini justru lebih tahan lama untuk produk-produk yang sederhana, bukan makanan yang kekinian dan pudar seiring arah tiupan angin. Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi, usaha makanan harus didukung penguasaan properti tempat berjualan agar ia awet, tak lekang oleh zaman.

Yang menarik dari kulineran di tanah Jawa, khas makanan tradisional yang cenderung pekat dibarengi rasa manis yang pas akan selalu kurang tanpa cameo pemiliknya sebagai judul. Hampir bisa dipastikan, makanan Bu X, Pak Y, Mbok Z akan lebih digunakan untuk menggambarkan brand daripada istilah-istilah zaman now seperti Susapi misalnya. Arsitektur warung juga kadang cukup tipikal dimana seorang penjual dikerubungi melayani pembeli. Banyak dari mereka hanya menggunakan tangan kosong tanpa sarung apapun. Katanya, itu pula yang membuat enak. Silakan coba sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *