Mode Kuliah Kuli

Ini adalah kondisi dimana kuli kuliah lagi. Kuli, yang selama ini dianggap rendah, ternyata masih bisa kuliah asalkan memiliki tekad plus sedikit kemampuan otak. Tekad penting. Tanpa tekad maka komitmen menjadi tak bermakna. Otak tak kalah penting, namun dibutuhkan hanya sedikit. Namanya juga kuliah, artinya menyerap sesuatu yang baru atau mendalami yang sudah ada. Sisakan ruang sedikit untuk materi-materi tersebut masuk ke rongga-rongga penyimpanan kita.

Kuli kuliah ini menarik dan menantang. Kuli terbiasa inline dengan target perusahaan. Waktunya biasa habis untuk bekerja. Mencari sesuap nasi dan segepok rupiah. Eh, rupiah tadi dibelanjakan untuk kuliah. Bukankah dulu kuliah untuk kuli? Ibarat excel, inilah yang namanya circular warning. Ternyata saudara-saudara, hubungan antara keduanya sangat logis dan sebab-akibat.

Mode kuli kuliah sangat berbeda dengan kuliah full-time. Saat yang lain pulang tepat waktu, kami extend waktu di kantor untuk mengerjakan tugas. Saat yang lain menghabiskan cuti untuk liburan, kami membuang cuti tersebut untuk tatap muka di dalam kelas. Saat yang lain fokus Sabtu-Minggu dengan keluarga, keluarga merelakan kami camp di kantor untuk ujian.

Kami sangat mengapresiasi kampus yang telah mengadministrasi kelas sedemikian hingga berjalan dengan lancar. Transfer ilmu saya rasa cukup optimal, meski terdapat kekurangan kecil di sana sini. Kekurangan itu tertutupi dari masa ke masa.

Masa-masa inilah yang akan kami kenang selalu. Dalam kebersamaan, menuntut ilmu untuk masa depan masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *