
Rokok bukan hal asing lagi bagi peradaban umat manusia. Sejak ditemukannya nikotin di dalam tembakau yang dapat membuat efek ‘nyaman’ bagi pecandunya, rokok berkembang pesat. Bahkan rokok menjadi sumber pendapatan utama negara. Tidak percaya? Pajak cukai rokok dapat mencapai angka Rp 20.000.000.000.000,00 (20 trilyun rupiah) per tahunnya dan terus berkembang tiap tahunnya [1]. Berterimakasihlah pada para perokok yang telah mempertebal pundi-pundi kas pemasukan APBN, :p.
Ok, kembali ke topik permasalahan. Ternyata, di balik itu semua rokok sangat berbahaya. Menurut para pakar kesehatan, jika seseorang merokok, maka resiko kematiannya akan meningkat sampai 12 kali lebih berbahaya daripada orang yang menderita kanker paru-paru. Sekarang marilah kita berpikir dengan otak dan hati nurani kita (halah, kaya’ orator aja), bukankah merokok itu bahaya?
Mari kita lihat bahaya rokok yang lainnya:
- 10 kali lebih mematikan daripada kanker mulut dan tenggorokan.
- 12 kali lebih mematikan daripada kanker paru-paru.
- 10 kali lebih mematikan daripada kanker pangkal tenggorokan.
- 6 kali lebih mematikan daripada penyakit jantung.
- 2 kali beresiko terserang stroke.
Sebagai pandangan lain, rokok juga membuat kanker alias kantong kering. Anggap saja sehari seseorang menghabiskan setengah bungkus rokok seharga Rp 6.000,-. Berarti sebulan perokok merogoh kocek sebesar Rp 90.000,-, setahun Rp 1.080.000,- dan jika diteruskan sampai 15 tahun maka akan menghabiskan duit sebesar Rp 16.200.000,-. Belum lagi jika diasumsikan inflasi sebesar 6%, maka pengeluaran akan membengkak menjadi sekitar Rp 25.150.000,- per 15 tahun. Ironisnya, perokok bukan saja berasal dari kalangan menengah ke atas, tetapi banyak juga yang berasal dari kalangan yang kurang mampu. Bukannya digunakan untuk kebutuhan lain, malah digunakan untuk merokok yang hampir tidak ada gunanya. Dan banyaknya akibat jelek mengkonsumsi rokok lah MUI mulai berpikir untuk mengeluarkan fatwa haram mengkonsumsi rokok [2].
Berhubung bulan Ramadhan akan segera datang, para perokok dimohonkan untuk mengurangi mengkonsumsi rokoknya ya? Hehe, peace man!! Sadar! Merokok itu berbahaya. Saya untungnya dari kecil tidak merokok, jadi Alhamdulillah. Bagaimana dengan anda, saudaraku?
Bulan ini saya lagi malas-malasnya menulis. Entah kenapa, menulis rasanya cukup membingungkan. Mengangkat tema apa ya?
Nah, berawal dari latar belakang itulah saya berpikir kenapa orang malas menulis. Alhasil timbul beberapa alasan:
1. Tidak ada waktu. Jelas dong, kalo sibuknya bukan maen pasti waktu untuk menulis alias posting jadi tidak ada.
2. Tidak ada bahan. Waktu ada, tapi kalau tidak ada yang hendak ditulis, jadi sia-sia dong. Jadi? Jadi cari dong bahan yang mau ditulis. Tulisan itu kan dibagi beberapa tipe. Kalo saya sih pengalaman pribadi dan pikiran saya saja. Kenapa? Karena itu yang paling mudah ditulis. Dan lagi pasti saya kuasai, wong saya yang ngalamin ;). Tips: (more…)
Beberapa hari ini serasa baru bagi saya. Ya tempat baru, orang-orang baru, rutinitas baru, tempat tinggal baru, dll. Pokoknya semua baru, untung muka saya aja yang ga’ berubah jadi baru. Sebenarnya yang paling membuat saya bingung saat ‘pindah’ atau istilah kerennya ‘merantau’ adalah urusan membagi waktu dan menetapkan rutinitas harian. Ini yang paling susah. Pernah terngiang di kepala saya satu filosofi, “Awalnya anda membentuk kebiasaan, tetapi lama kelamaan kebiasaan membentuk Anda.”
Wah, urusan gawat jika memang kebiasaan membentuk saya. Dan itu memang terbukti. Dulunya saya sempat bisa membagi waktu untuk sekedar internetan menyapa relasi atau teman-teman chating saya, dan sekarang tidak. Dulunya saya sering sekedar membeli mangga untuk dibuatkan jus. Dan segala macamnya lah. Sekarang?
Saudara-saudara sekalian (seperti pidato ya? :p), menurut saya bagian terpenting hidup adalah bisa membagi waktu dan membentuk kebiasaan baik. Artinya setelah anda dan saya membentuk kebiasaan-kebiasaan baik, membuat rutinitas bermanfaat, tentunya kita semua akan mendapat feedbacknya. Kebiasaan-kebiasaan baik tadi yang akan membuat kita lebih baik tentunya.
Menyisakan waktu untuk bersosialisasi bagi anda yang sibuk di kantoran merupakan contoh yang baik. Atau merencakan olahraga terprogram bagi anda yang jarang olahraga. Bisa juga meluangkan waktu untuk bertamasya bersama keluarga bagi orang-orang yang jarang di rumah.
Bagi anda yang ingin sukses, salah satu cara dan tahap paling penting adalah mengubah kebiasaan anda. Coba camkanlah hal ini. Semoga sukses.