Wahyu Reza Prahara

Gift of Gab

Archive for the ‘Lifestyle’ Category

Mengapa Anda Tidak Pernah Kaya?

Sunday, October 12th, 2008

Banyak orang beranggapan mereka tidak kaya karena mereka tidak menghasilkan uang yang banyak. Jika saya menghasilkan uang sedikit lebih banyak, tentu saya dapat menabung dan menginvestasikannya dengan lebih baik, kata mereka.

Masalahnya adalah, mereka selalu berargumen sama pada saat kenaikan pendapatan terakhir mereka. Menjadi orang kaya sebenarnya berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan uang di kehidupan sehari-hari.

Alasan-alasan mengapa seseorang tidak menjadi kaya tidak berakhir sampai 10. Menghiraukan apa yang dipikir oleh tetangga anda, tidak sabaran, mempunyai kebiasaan buruk, tidak punya tujuan, tidak punya persiapan, mencoba untuk mendapatkan uang dengan instan, bergantung pada orang mengelola uang anda, menginvestasikan uang pada sesuatu yang tidak anda mengerti, takut pada uang dan bahkan tidak memperhatikan keuangan menjadi faktor-faktor yang mungkin menyebabkan orang tidak kaya.

Berikut adalah 10 alasan utama yang menyebabkan orang tidak kaya: (more…)

Rokok nan Berbahaya

Sunday, August 24th, 2008

Rokok bukan hal asing lagi bagi peradaban umat manusia. Sejak ditemukannya nikotin di dalam tembakau yang dapat membuat efek ‘nyaman’ bagi pecandunya, rokok berkembang pesat. Bahkan rokok menjadi sumber pendapatan utama negara. Tidak percaya? Pajak cukai rokok dapat mencapai angka Rp 20.000.000.000.000,00 (20 trilyun rupiah) per tahunnya dan terus berkembang tiap tahunnya [1]. Berterimakasihlah pada para perokok yang telah mempertebal pundi-pundi kas pemasukan APBN, :p.
Ok, kembali ke topik permasalahan. Ternyata, di balik itu semua rokok sangat berbahaya. Menurut para pakar kesehatan, jika seseorang merokok, maka resiko kematiannya akan meningkat sampai 12 kali lebih berbahaya daripada orang yang menderita kanker paru-paru. Sekarang marilah kita berpikir dengan otak dan hati nurani kita (halah, kaya’ orator aja), bukankah merokok itu bahaya?
Mari kita lihat bahaya rokok yang lainnya:
- 10 kali lebih mematikan daripada kanker mulut dan tenggorokan.
- 12 kali lebih mematikan daripada kanker paru-paru.
- 10 kali lebih mematikan daripada kanker pangkal tenggorokan.
- 6 kali lebih mematikan daripada penyakit jantung.
- 2 kali beresiko terserang stroke.

Sebagai pandangan lain, rokok juga membuat kanker alias kantong kering. Anggap saja sehari seseorang menghabiskan setengah bungkus rokok seharga Rp 6.000,-. Berarti sebulan perokok merogoh kocek sebesar Rp 90.000,-, setahun Rp 1.080.000,- dan jika diteruskan sampai 15 tahun maka akan menghabiskan duit sebesar Rp 16.200.000,-. Belum lagi jika diasumsikan inflasi sebesar 6%, maka pengeluaran akan membengkak menjadi sekitar Rp 25.150.000,- per 15 tahun. Ironisnya, perokok bukan saja berasal dari kalangan menengah ke atas, tetapi banyak juga yang berasal dari kalangan yang kurang mampu. Bukannya digunakan untuk kebutuhan lain, malah digunakan untuk merokok yang hampir tidak ada gunanya. Dan banyaknya akibat jelek mengkonsumsi rokok lah MUI mulai berpikir untuk mengeluarkan fatwa haram mengkonsumsi rokok [2].
Berhubung bulan Ramadhan akan segera datang, para perokok dimohonkan untuk mengurangi mengkonsumsi rokoknya ya? Hehe, peace man!! Sadar! Merokok itu berbahaya. Saya untungnya dari kecil tidak merokok, jadi Alhamdulillah. Bagaimana dengan anda, saudaraku?

:D

Gengsi Bersepeda

Friday, August 8th, 2008

Bersepeda
Inset: Asyiknya bersepeda.

Siapa yang tidak kenal sepeda? Kendaraan beroda dua ini pernah menjadi primadona pada zamannya. Padahal, kelebihan bersepeda lebih banyak daripada berkendara motor. Bersepeda tidak menghasilkan polusi udara, tidak membutuhkan bahan bakar minyak (BBM), dsb. * Singkat kata, alasan orang bersepeda berefek positif dan sangat baik kesehatan, keuangan, dan kehidupan. **

Namun sekarang? Sepeda baru terkenal jika ditambah ‘motor’ di belakangnya, alias “Sepeda Motor”. Haha, ironis memang. Penggunaan sepeda di kalangan masyarakat tergerus era modernisasi. Sebab musababnya cuma satu, GENGSI. Orang Indonesia gengsi bersepeda karena takut dianggap primitif dan kelas dua. *** Beda halnya dengan negara yang pernah menjajah kita. Katanya di Belanda, orang tidak gengsi bersepeda. Bahkan hampir sama dengan mobil, masyarakat Belanda juga hobby menambah asesoris tertentu pada sepeda mereka. **** Di Jepang setali tiga uang, bersepeda hal yang lumrah. Vice versa, apakah Indonesia sangat benci penjajah mereka terdahulu sampai budaya bersepeda sama sekali tidak dicontoh??

Cadangan minyak dunia hampir habis dan akan terus menipis. Bersepeda merupakan salah satu cara mengatasi problem tersebut. Bepergian ke kantor, kampus, sekolah, rumah teman, pasar, mall, dan tempat-tempat lain yang dapat ditempuh dengan jarak 10-20 menit seharusnya bersepeda saja. Murah, sehat, oke pula. Di beberapa kota sudah ada kesadaran membentuk suatu komunitas bersepeda seperti Komunitas Bike2Work, Komunitas Bersepeda UI, dsb. Image bersepeda itu jelek harus kita ubah, dari sekarang. Namun, pemerintah agaknya masih kurang memperhatikan. Di luar negeri, ada jalan khusus untuk pengguna sepeda. Ah, biarpun demikian tidak mengurangi semangat saya untuk bersepeda. Ayo bersepeda!!