Kemarin (Rabu, 21 Mei 2008) Menkeu memastikan akan menaikkan harga BBM sebesar 28,7%. Hal ini menyusul harga minyak dunia yang terus melambung tinggi. Bukan tidak mungkin harga minyak bisa mencapai $200 per barrelnya. Dapat dipastikan pemerintah akan ketar-ketir dibuatnya. APBN akan jeblok, pembangunan terhambat, masyarakat tentu lebih akan lebih ‘berat’ menerima kenyataan ini. Apalagi jika pemerintah sekarang tidak menaikkan harga minyak (yang dari dulu disubsidi), sudah barang tentu pula saat minyak mencapai $200 barrel nanti efek yang dirasakan masyarakat akan lebih menyakitkan jika tidak dibiasakan dari sekarang.
Chain Effects
Kenaikan harga BBM sungguh akan membuat efek berantai, khususnya dalam masalah perekonomian kita. Harga barang naik, sudah pasti. Ini merupakan efek berantai yang harus diterima mengingat hampir seluruh produksi dan distribusi barang di Indonesia masih melibatkan faktor BBM.
Fenomena Masyarakat
Masyarakat Indonesia menurut pandangan saya salah satu contoh masyarakat yang tidak serta merta bisa menerima perubahan. Artinya, banyak orang yang memikirkan dari satu sudut pandang saja. Akibatnya, gelombang massa demo meluas menolak kenaikan harga BBM. Padahal, apakah mereka tahu jika BBM tidak dinaikkan sekarang akan menyisakan tugas yang lebih parah lagi ke depan apabila harga minyak dunia menembus $200? Apakah semua orang tahu (terutama yang demo) jika harga BBM tidak naik, artinya kita sama saja seperti bayi berumur 10 tahun (umur reformasi) yang selalu disuap oleh orang tuanya? Apakah mereka tahu bahwa perubahan lah yang membawa kita ke peradaban yang lebih baik?
Memang pertanyaan-pertanyaan seperti itu seharusnya dicamkan oleh para demonstran. Jangan hanya menuntut kenaikan harga BBM dibatalkan. Saya tidak memungkiri ada masyarakat kelas bawah yang akan sulit beradaptasi dengan kenaikan harga BBM ini, tetapi pemerintah sudah memberikan solusi praktisnya. Solusi lainnya saya rasa akan menyusul karena planning mempunyai sifat flexible.
Solusi
Tidak banyak yang tahu ternyata yang sangat menikmati subsidi BBM adalah ‘orang-orang kaya’. Bagaimana tidak? Hitung saja berapa jumlah mobil di Indonesia dan berapa persen yang dipunyai orang kaya? Hitung lagi, berapa ratio penggunaan BBM untuk mobil dan motor (siapa yang lebih banyak?) Saya berani bertaruh penggunaan BBM untuk mobil lebih besar daripada motor per bulannya.
Huff.
BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang dilakukan pemerintah memang riskan akan penyalahgunaan dan birokrasi yang ruwet. Setidaknya itu yang terbaik yang dapat dilakukan pemerintah. Asalkan BLT tepat sasaran insyaAllah mengurangi penderitaan rakyat miskin.
Harapan
Dengan naiknya harga BBM, tentunya penggunaan BBM dalam keseharian kita seharusnya dapat kita kontrol. Untuk itu, saya sangat berharap pemerintah meningkatkan kualitas sarana transportasi umum. Adanya TransJakarta dan TransJogja merupakan program yang bagus. Ide-ide lain seharusnya dapat menyusul.
*Analisis bebas corat-coret dari seorang yang pro terhadap kenaikan BBM. Hanya dari pikiran penulis, tidak mencerminkan pihak manapun.
Adanya Acehforum merupakan suatu gebrakan yang benar-benar baru di Aceh. Acehforum menyedot hampir seluruh pengguna internet aktif di Aceh, khususnya kota-kota besar seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Pidie, Bireuen, dan kota-kota lainnya. Selain itu anak-anak Aceh di luar daerah tentunya tidak ketinggalan menyemarakkan forum ini. Sungguh lazim jika dikatakan Acehforum merupakan community online terbesar seantero Aceh saat ini. Saya sendiri sudah bergabung bersama Acehforum sejak April 2006, mengingat salah satu founder-nya adalah saudara saya, bang Imun :).
Hanya dua tahun sejak berdirinya, Acehforum mulai mempublikasikan majalah online gratis pertamanya. Majalah bernama keren “MOI” edisi pertama ini mengusung ide dan tema Aceh Damai, Simbol Peradaban Aceh Modern. Tidak jelas asal-usul nama MOI sendiri diambil darimana (atau saya yang belum tau?). Edisi perdana MOI ini terbit dalam 20 halaman dengan jepretan photography yang menawan (salut). Sebagian besar content masih didominasi oleh iklan sponsor. Sisanya (kira-kira hanya 6 halaman) membahas keadaan Aceh pasca konflik mulai dari pandangan investasi bisnis di Aceh pasca konflik hingga pendapat beberapa orang yang dirangkum ciamik.
Suasana iklan masih kental terasa di edisi perdana ini. Mungkin ini cara terbaik untuk menarik pemilik usaha berbondong-bondong memasang iklan. Mengusung nama besar Acehforum juga menjadi nilai tersendiri dengan target pasarnya yang menjanjikan. Visitor dan user Acehforum mencapai 9087 anggota (17 April 2008). Terbukti dengan designnya yang menarik, saya sempat berminat beriklan di Majalah MOI ini (walaupun saya tidak tahu harus mengiklankan apa).
Sayangnya, majalah ini hanya “mengeksplorasi sisi-sisi kehidupan di Banda Aceh”. Hal ini tersirat di sambutan awal halaman daftar isi. Namun, saya menangkap dan berharap ada pengembangan ke daerah-daerah lain untuk ke depannya. Prospek majalah online menurut hemat saya sangat bagus. Perlu adanya ‘pengamanan pasar’ dengan menjadi pioneer terkemuka. Apalagi dengan target pasar di seluruh wilayah Aceh. Sungguh prospektif.
Tentunya banyak harapan dengan terbitnya majalah online pertama di Aceh ini. Mari kita bersama-sama menjadi bagian, penopang dalam pencapaian harapan untuk Aceh yang lebih maju.
Download Majalah MOI Edisi Perdana Mei 2008
WRP, Mei 2008