Alasan utama saya bingung memilih ISP di Indonesia jelas karena paket yang ditawarkan. Rata-rata paket yang ditawarkan ‘IRIT’ banget. TelkomSpeedy menawarkan paket harga yang ‘lumayan miring’. Namun, masih membuat kantong saya jebol. Untuk 1 GB saja, Speedy mematok tarif Rp 200.000,- per bulan. Sedangkan untuk paket unlimitednya dibanderol dengan tarif Rp 750.000,- per bulan. Huff, mahal (buat saya). Apalagi mendengar keluhan teman saya yang pelanggan Speedy. Speedy sering mati lah, tidak dapat link, kalau malam lelet, dsb menambah keengganan berlangganan Speedy.
Alternatif kedua jatuh pada produk Indosat. Sesuai kebutuhan dan lokasi saya, saya cari yang murah meriah namun dapat terjangkau dengan mobilitas tinggi. Melihat paket 1,2GB yang berharga Rp 350.000,- sebulan langsung membuat saya ilfil. Lebih mahal dari Speedy. Belum lagi keharusan membeli HP berteknologi 3G (walaupun saya sudah punya tetapi saya tidak mau mengorbankannya jadi modem yang aktif sampai 18 jam sehari) atau modem 3G. Untuk paket unlimitednya malah tidak ada untuk paket produk 3G ini. Tidak puas sampai di situ, saya coba cari ke menu lain. Ternyata ada untuk unlimited dengan memasang satelit paket BLITZ. Wah, lumayan tuh unlimited. Tapi harga per bulannya sampai Rp 1.700.000,- (lebih mahal dari Speedy). Tetapi jika sanggup membeli perangkat parabola penerimanya yang seharga Rp 20.000.000,- biaya per bulan jadi Rp 850.000,-. Kelebihan BLITZ ini adalah area jangkauannya mencapai seluruh Indonesia (seluas area cakupan satelit Palapa). Tapi sayang, kecepatannya cuma up to 512 Kbps.
Di Indosat ini penawarannya banyak, jadi saya tidak putus asa. Ada paket produk koneksi menggunakan CDMA. Wah, asik ni. Saya perlu untuk mobilitas tinggi. Tapi, harganya masih mahal. Lebih mahal dari masuk ke warnet. Rp. 165,-/menit*. Ya sudah, saya cari lain kali saja. Itulah sekelumit perjalanan saya mencari ISP yang cocok dengan karakteristik pemakaian internet saya. Oya sebagai referensi, saya menggunakan internet sangat sering. Sehari bisa lebih dari 5 jam dengan bandwidth yang gemuk.

Sebenarnya untuk memilih ISP pekerjaan yang gampang-gampang susah. Faktor apa saja yang perlu diperhatikan?
(more…)
Capeeee dehhh
Program per detik keluaran Telkomsel sudah mulai menunjukkan kepayahannya. Semalam saya mencoba melakukan mode perpindahan. Mode perpindahan program tarif Telkomsel dapat diakses melalui *880#. Ada 3 menu tarif yang berlaku sekarang (Tarif per Detik, Tarif per Menit, PeDe 13). Karena waktu sudah malam (pukul 19.00 WIB) saya memutuskan pindah ke mode Tarif per Detik. Maklum, mode tarif PeDe 13 tidak berlaku lagi setelah pukul 18.00 WIB.
Satu kali, tidak berhasil. Dua kali, tidak berhasil. Tiga kali, masih tidak berhasil. Uhhh, kenapa ini? Ngemeng-ngemeng (dengan gaya Tukul yang kuatro’), error yang muncul sepertinya nggak begitu terasa. Begini kronologinya:
*880# (CALL)
Kemudian tampil menu utama:
1. Tarif per Detik
2. Tarif per Menit
3. Tarif PeDe 13
4. Lihat Status Tarif
Kemudian saya reply dengan balasan 1.
Hasilnya tidak seperti yang diharapkan, malah kembali ke menu utama barusan. Saya coba untuk Tarif per Menit. Eh, berhasil.
Tampil konfirmasi:
Apakah anda benar ingin
mengubah tarif menjadi per
Menit? Silakan tekan 1 utk
melanjutkan.
1. Ya
9. Menu Sebelumnya
0. Menu Utama
Awalnya saya positive thinking aja, mungkin server lagi overload dan mode untuk tarif per detik sedang banyak diakses. Besoknya saya coba lagi, tetapi error masih sama. Wah, Telkomsel sudah ‘bermain’ curang ni. Hati-hati, mungkin besok kita nggak bisa lagi mengubah mode tarif seenaknya lagi. Alasannya klise, server overload.
* Saya males buat nelpon Customer Servicenya di 116. Jawabannya sudah pasti tidak memuaskan dan nggak menyelesaikan masalah. Pernah saya menelepon 116 (masuknya lama banget!!!) di Surabaya karena HP saya tidak bisa untuk akses GPRS. Mereka menganjurkan untuk melakukan setting ulang dan mendaftar GPRS ke 6616. Tapi sayang, tidak berhasil. Saya sebutkan semua setting HP saya. Terakhir baru saya tahu letak kesalahannya karena HP saya dual mode 3G dan GPRS hidup bersamaan. Kemudian saya matikan mode 3Gnya, saya coba GPRSnya berhasil. Nah, buang-buang waktu saja saya hubungi 116.
Sudah bukan pemandangan asing mungkin bagi anda yang di Jakarta melihat puluhan orang (bahkan mungkin ratusan) meneriakkan aspirasi mereka di Bundaran HI, di Depan Istana Presiden, bahkan sampai turun ke jalanan. Aspirasi apa yang mereka inginkan? Menolak kebijakan pemerintah? Ya, hampir semuanya bernadakan penolakan kebijakan pemerintah. Siapa yang salah? Pemerintah atau rakyat?
Negara Demokrasi
Negara kita memang negara Demokrasi. Namun, negara demokrasi dengan birokrasi yang berbelit. Seharusnya aspirasi rakyat disampaikan melalui partai. Atau langsung saja menulis surat ke Departeman terkait. Tapi apa yang didapatkan? Respon? Boro-boro respon, dibaca saja mungkin tidak.
Pingin bertemu dengan wakil rakyat? Pasti direpotkan dengan orang-orang dalam (baca: protokoler) yg berbelit-belit. Boro-boro diterima, ngatur jadwal meminta kepastian saja belum tentu bisa. Ya, inilah kita, negara Indonesia, negara demokrasi dengan birokrasi yang rumit. Birokrasi yang melilit.
Rakyat Indonesia
Entah salah siapa, banyak orang sekarang berpikiran satu-satunya cara menuntut aspirasinya adalah dengan berdemo. Membakar ban sampai merusak benda-benda sekitarnya. Apa ini yang diajarkan para pendahulu kita? Ironisnya, kebanyakan pendemo berasal dari mahasiswa yang notabene nanti menjadi pemimpin Indonesia. Saya sebenarnya malu, malu pada bangsa Indonesia (nggak semua, hanya pada orang-orang yang berpikiran sempit).
Pemerintah Salah?
SBY sudah mengambil langkah tepat berpidato ke seluruh stasiun TV untuk mensosialisasikan kenaikan harga BBM. Ini merupakan langkah positif. Saya berharap semua presiden (pemerintah) mensosialisasikan program atau kebijakan yang diambil, biar tidak ada simpang siur. Kalau perlu, beberkan saja hitung-hitungan alias analisis mengapa kebijakan itu dicanangkan. Jadi, tidak akan terjadi komunikasi sepihak, pemerintah ngerti masyarakat paham. Sebenarnya kata kunci yang ingin saya garisbawahi di sini adalah sosialisasi. Sosialisasi sangat penting. Lebih penting dari kebijakan itu sendiri (lha kalau tidak disosialisasikan dan ada yang menolak kan kebijakan jadi hilang arti).
Kalau saja pemerintah mengatur cara berdemo yang baik, tanpa harus mengeluarkan massa satu kampung atau satu universitas tentu jalan-jalan tidak akan macet, toko-toko tidak perlu tutup, masyarakat tidak terluka, polisi tidak cedera, dan pemerintah tidak pusing. Namun, pemerintah harus komit terhadap komplain masyarakat dan memberi feedback tiap ada elemen masyarakat yang komplain. Apa sudah berpikiran ke situ wahai wakil rakyat?
Kemarin (Rabu, 21 Mei 2008) Menkeu memastikan akan menaikkan harga BBM sebesar 28,7%. Hal ini menyusul harga minyak dunia yang terus melambung tinggi. Bukan tidak mungkin harga minyak bisa mencapai $200 per barrelnya. Dapat dipastikan pemerintah akan ketar-ketir dibuatnya. APBN akan jeblok, pembangunan terhambat, masyarakat tentu lebih akan lebih ‘berat’ menerima kenyataan ini. Apalagi jika pemerintah sekarang tidak menaikkan harga minyak (yang dari dulu disubsidi), sudah barang tentu pula saat minyak mencapai $200 barrel nanti efek yang dirasakan masyarakat akan lebih menyakitkan jika tidak dibiasakan dari sekarang.
Chain Effects
Kenaikan harga BBM sungguh akan membuat efek berantai, khususnya dalam masalah perekonomian kita. Harga barang naik, sudah pasti. Ini merupakan efek berantai yang harus diterima mengingat hampir seluruh produksi dan distribusi barang di Indonesia masih melibatkan faktor BBM.
Fenomena Masyarakat
Masyarakat Indonesia menurut pandangan saya salah satu contoh masyarakat yang tidak serta merta bisa menerima perubahan. Artinya, banyak orang yang memikirkan dari satu sudut pandang saja. Akibatnya, gelombang massa demo meluas menolak kenaikan harga BBM. Padahal, apakah mereka tahu jika BBM tidak dinaikkan sekarang akan menyisakan tugas yang lebih parah lagi ke depan apabila harga minyak dunia menembus $200? Apakah semua orang tahu (terutama yang demo) jika harga BBM tidak naik, artinya kita sama saja seperti bayi berumur 10 tahun (umur reformasi) yang selalu disuap oleh orang tuanya? Apakah mereka tahu bahwa perubahan lah yang membawa kita ke peradaban yang lebih baik?
Memang pertanyaan-pertanyaan seperti itu seharusnya dicamkan oleh para demonstran. Jangan hanya menuntut kenaikan harga BBM dibatalkan. Saya tidak memungkiri ada masyarakat kelas bawah yang akan sulit beradaptasi dengan kenaikan harga BBM ini, tetapi pemerintah sudah memberikan solusi praktisnya. Solusi lainnya saya rasa akan menyusul karena planning mempunyai sifat flexible.
Solusi
Tidak banyak yang tahu ternyata yang sangat menikmati subsidi BBM adalah ‘orang-orang kaya’. Bagaimana tidak? Hitung saja berapa jumlah mobil di Indonesia dan berapa persen yang dipunyai orang kaya? Hitung lagi, berapa ratio penggunaan BBM untuk mobil dan motor (siapa yang lebih banyak?) Saya berani bertaruh penggunaan BBM untuk mobil lebih besar daripada motor per bulannya.
Huff.
BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang dilakukan pemerintah memang riskan akan penyalahgunaan dan birokrasi yang ruwet. Setidaknya itu yang terbaik yang dapat dilakukan pemerintah. Asalkan BLT tepat sasaran insyaAllah mengurangi penderitaan rakyat miskin.
Harapan
Dengan naiknya harga BBM, tentunya penggunaan BBM dalam keseharian kita seharusnya dapat kita kontrol. Untuk itu, saya sangat berharap pemerintah meningkatkan kualitas sarana transportasi umum. Adanya TransJakarta dan TransJogja merupakan program yang bagus. Ide-ide lain seharusnya dapat menyusul.
*Analisis bebas corat-coret dari seorang yang pro terhadap kenaikan BBM. Hanya dari pikiran penulis, tidak mencerminkan pihak manapun.
Gagasan baru yang asik. Proyek Link Cinta? Pasti dengar pertama aneh. Proyek apaan ni? Ternyata udah banyak yang ikutan. Nih mereka..
1. As Long As I Can Dream by Jed Revolutia
2. Paint Your Life by Icha
3. Inspirasi Blog by Tony
4. Anda Cantik by Anda Cantik
5. Yoto by Yoto
6. My Life by Tekywidjaja
7. Michael Jolivan by Michael Jolivan
8. Write Whatever Like Water by Putra Eka
9. A Women After God Own Heart by Caca
10. A Special Gift For Every One By Rafki Rasyid
11. GratciaNulis13@BigKampoengJakarta by Gratcia
12. My Life My Story by Juliana Dewi K
13. A 15 Minute by A15Minute Team
14. In Christ Alone by Laurencia Susan
15. Davlin’s Room by Yoseline Adams
16. Gift of Gab by Wahyu Reza Prahara
Mau ikutan??? Buat aja post sperti ini dan jangan lupa mengunjungi satu-persatu membernya.
agar diupdate tentu. Sukses ya?