Radio Online & Ruang di Atap

Konsep radio online (via internet) telah lama bergulir. Kalau diingat-ingat, saya mulai meraskaan streaming radio online sejak 1998 saat awal-awal menggunakan internet. Sekadar ilustrasi, saat itu saya mengandalkan dial-up connection dengan modem merk Rockwell berkecepatan 33.6 kbps. Terima kasih kepada perusahaan tempat Ayah saya bekerja yang menyediakan layanan dial-up gratis tersebut. Kecepatan tersebut sudah cukup memberikan saya kekuatan meng-explore dunia lewat maya. Ah, bukan itu yang ingin saya bahas.

Kembali ke soal radio online, akses radio dulu sebagian besar melalui aplikasi winamp atau windows media player. Barusan saja, ketika sedang coding dengan Vue, saya menemukan radio online via YouTube. Waw, teknologi berkembang sangat pesat saudara-saudara. Peradaban berlomba-lomba mengembangkan teknologi ke arah yang lebih baik dan canggih. Dengan demikian, many of our dreams could probably come true thanks to the technology.

Hal lain yang menggelitik saya adalah penampakan ruang di streaming radio tersebut (ya, walaupun hal tersebut hanya animasi). Di Indonesia, jarang sekali kita menemukan ruang di atap dengan jendela menengadah ke langit. Kalau ada kesempatan dan sumber daya, I want to build one. Probably later, not in the near future thou.

Tema WP Typography

Memilah-milih tema bukan hal yang sederhana. Warna, tata letak, fleksibilitas, fitur biasa menjadi pertimbangan. Namun bagi pribadi saya, template yang digunakan harus mengedepankan typography mengingat saya lebih senang menulis dan membaca tanpa embel-embel section yang mengganggu pandangan. Maka, setelah berjelajah sana sini, opsi pun jatuh pada 4 template ini:

Keempatnya menampilkan typography yang mentereng. Perbedaan hanya pada tata letak dan keberagaman warna. Silakan memilih.

Sekilas di Semarang

Menyusuri perjalanan dari bandara ke hotel tempat saya menginap kembali melayangkan memori arsitektur kota saat Indonesia diduduki Belanda berpuluh tahun silam. Bangunan tua silih berganti menampakkan wujudnya sembari menggelitik pemirsa untuk mencari tahu sejarahnya. Sayang seribu sayang, gaya neo klasik ini sangat jarang kita adopsi.

Beranjak pada khazanah kuliner, Semarang memiliki ratusan bahkan ribuan kuliner tradisional. Sebagaimana hukum alam tentang industri kuliner yang saya kenal, suatu usaha makan-makanan ini justru lebih tahan lama untuk produk-produk yang sederhana, bukan makanan yang kekinian dan pudar seiring arah tiupan angin. Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi, usaha makanan harus didukung penguasaan properti tempat berjualan agar ia awet, tak lekang oleh zaman.

Yang menarik dari kulineran di tanah Jawa, khas makanan tradisional yang cenderung pekat dibarengi rasa manis yang pas akan selalu kurang tanpa cameo pemiliknya sebagai judul. Hampir bisa dipastikan, makanan Bu X, Pak Y, Mbok Z akan lebih digunakan untuk menggambarkan brand daripada istilah-istilah zaman now seperti Susapi misalnya. Arsitektur warung juga kadang cukup tipikal dimana seorang penjual dikerubungi melayani pembeli. Banyak dari mereka hanya menggunakan tangan kosong tanpa sarung apapun. Katanya, itu pula yang membuat enak. Silakan coba sendiri.

Penggerak Itu Bernama Uang

Pernah tidak kita berpikir? Bahwa ternyata penggerak utama kegiatan kita adalah uang. Ya, uang. Mau ke kantor, butuh uang. Menjalankan hobi, perlu uang. Pasal UUD pada filosofi ini ada benarnya, ujung-ujungnya duit (uang). Lalu apa lantas?

Memahami konsep uang sebagai penggerak bisa dimaknai positif atau negatif, bergantung cara pandang dan sentimen seseorang. Anda tergolong yang mana? Bagi saya, uang sebagai penggerak adalah positif. Dengan kata lain, uang bertindak sebagai katalisator. Bahasa sederhananya, dengan adanya uang maka kegiatan berjalan cepat.

Dasar berpikir ini juga jamak dapat kita perhatikan di perusahaan atau instansi pemerintahan. Dimana uang berputar, di situ pula kegiatan bergerak cepat. Bukan demikian?

Mengejar Penerbangan Pertama

Setelah 15 tahun, saya mendapatkan kesempatan lagi untuk mengunjungi kota Semarang. Tapi tunggu dulu. Bukan kota Semarang yang akan dibahas, tapi pengalaman naik pesawat ke Semarang melalui Soetta.

Berhubung kegiatan saya dimulai pagi, mau tidak mau pesawat paling pagi (first flight) menjadi pilihan. Banyak orang menganggap naik pesawat itu cepat. Ke Semarang hanya butuh waktu 1 jam dari Jakarta. Kata siapa? Itu semua semu.

Begini penjelasannya. Untum mengejar first flight pukul 05.35, anda harus minimal check-in 04.50 (Garuda). Namun anda tidak mungkin sampai di gerbang komplek bandara tepat 04.50 bukan? Untuk kasus umum, biasa waktu tiba kita rencanakan 20-30 menit dari waktu terakhir check-in. Kita misalkan saja 20 menit. Berarti anda harus berada di bandara setidaknya pukul 04.20.

Selanjutnya, tambahkan waktu perjalanan anda dari rumah. Berangkat pagi dari Jadetabek biasa cuma butuh waktu 1 jam. Berarti dari rumah minimal pukul 03.20. Kalau naik kendaraan umum seperti Damri, anda bahkan harus spare waktu lebih lama. Minimal harus berangkat pukul 03.00 tergantung jarak. Kecuali rumah di seberang bandara persis, spare waktu 1 jam 30 menit untuk transportasi dari rumah-bandara adalah wajar.

Berangkat pukul 03.00 kemudian sampai Semarang pukul 06.40 plus wira wiri di Bandara tujuan selama 20 menit. Berarti total butuh waktu berapa jam? Ya, sekitar 4 jam.

Mesin BMW E34 Tak Bertenaga

Mesin mobil BMW saya cap jempol untuk keawetannya. Masalah mesin terakhir di mobil ini saya alami tahun 2017 saat radiator bocor. Teman saya saat itu tidak terlalu awas dengan indikator suhu di dashboard. Jadilah hari itu mobil diderek sampai rumah karena radiator jebol. Ganti radiator baru di Senen abis sekitar 1,5jtan dengan harga radiator sendiri di angka 1,1jt.

Masalah baru muncul lagi beberapa bulan lalu. Ini mobil jarang dipakai, hanya dipanasin untuk re-charge aki kemudian dipajang. Itupun disarungin. Saat ada tugas hampir seminggu ke Bandung, mobil saya bawa. Sekalian nge-charge aki sambil jalan. Hari ke-3, mobil terasa tidak bertenaga saat perjalanan ke Soreang. Untung saja tanjakan masih bisa dilahap.

Pulang ke rumah, saya dan mertua pun memutuskan untuk membongkar mesin. Jreng, dua busi terendam air. Pantas saja mobil pincang. Beberapa minggu setelahnya, kami bongkar lagi. Kali ini dengan manggil montir. Montir bingung, kami pun lebih bingung lagi. Kalau air masuk ruang bakar, harusnya tercampur oli juga. Namun kenyataan berkata sebaliknya. Ruang bakar aman, blok mesin juga terlihat baik-baik saja.

Akhirnya mobil ditune-up saja. Sempat terkendala mencari replacement busi Bosch dua kaki eksisting. Saya putuskan ganti merk Denso yang agak murah tapi model khusus untuk injeksi. Untuk menjaga kompresi, ruang mesin diseal dengan silicone merk ThreeBond. Ruang bakar kami semprot cleaner (semacam merk DCS). Mudah-mudahan masalahnya bisa diselesaikan.

Metode Belajar: Fokus dan Enyahkan!

Memang kalau berbicara belajar, otak bisa pusing, perut pun boleh keram. Apalagi jadwal ujian semakin mendekat, tugas menumpuk, bisa lebih parah: muntah-muntah. Sekilas terdengar fiksi, namun kerap terjadi. Mengapa? Karena proses belajar sejatinya adalah proses “memasukkan”. Dan sebagaimana filosofi saya pribadi mengatakan, proses menyerap/memasukkan ilmu dalam memori itu sukar.

Setidaknya ada beberapa faktor penyebabnya. Faktor pertama, umur (biasa disingkat U). Ibarat mesin, makin tua kinerjanya pasti menurun. Hal yang sama berlaku untuk sel-sel otak. Kedua, tidak pernah dilatih. Ini lebih gila lagi, rekatan memori ternyata perlu dielus-elus supaya tidak lekang. Caranya dengan mengulang-ulang. Sebagai contoh sederhana, semakin lama kita tidak bertemu dengan seseorang maka ingatan kita tentangnya semakin memudar. Bahkan namanya bisa lupa, dasar pikun.

Lalu bagaimana cara belajar yang efektif? Continue…